Pengertian Dividen dan Jenisnya

Apa itu Dividen? Berikut Penjelasan, Jenis, Dan Metode Pembayarannya

Apa itu Deviden? Berikut Penjelasan, Jenis, Dan Metode Pembayarannya! Dalam dunia akuntansi, kata deviden tentunya bukan kata yang asing lagi. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut laba yang diperoleh pemilik saham dari keuntungan perusahaan dalam suatu periode tertentu. Namun perlu diketahui, tidak semua keuntungan yang diperoleh perusahaan dibagi dalam bentuk devidend. Sebab keuntungan tersebut juga digunakan sebagai modal kembali.

Masing-masing perusahaan bisa saja miliki acuan berbeda mengenai pembagian keuntungan tersebut. Salah satunya terkait dengan besar-kecilnya yang telah diputuskan oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Begitu pula dengan periode pembagian. Secara umum, pembagian keuntungan tersebut dilakukan per satu tahun. Akan tetapi, hal itu juga disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada perusahaan, bidang keuangan khususnya.

Apa itu Deviden? Berikut Penjelasan, jenis, dan metode pembayarannya

Dalam bentuk apa laba perusahaan yang diberikan pada pemegang saham tersebut dibagikan? Dunia investasi mengenal 5 jenis deviden, yakni cash, property, stock, skrip, dan liquidating devidend. Kelima jenis keuntungan yang diperoleh pemegam saham dari laba usaha tersebut miliki sebab masing-masing mengapa diberikan oleh perusahaan. Berikut ini adalah penjelasan yang lebih lengkap.

Cash devidend (deviden tunai)

Keuntungan yang satu ini merupakan jenis keuntungan yang diberikan kepada pemilik saham dalam bentuk tunai. Bentuk keuntungan inilah yang paling banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan. Selain itu, pembayaran cash devidend yang akan menguras kas dan saldo laba ini juga menjadi bentuk keuntungan favorit pemegang saham. Besarnya pembayaran cash devidend sesuai dengan persentasi besarnya kepemilikan saham di perusahaan.

Property devidend

Cash devidend memungkinkan diberikan pada pemegang saham jika perusahaan miliki cukup kas. Akan tetapi, meskipun jarang, adapula perusahaan yang berikan deviden dalam bentuk properti. Meski begitu, bisa dikatakan jika prosedur dan mekanismenya cukup sulit. Sehingga selain dalam kondisi darurat, perusahaan umumnya tidak akan membagikan property devidend ini.

Stock devidend (Saham)

Selain cash dan properti devidend, memungkinkan juga perusahaan akan berikan laba berupa stock devidend. Sama seperti property devidend, jenis laba ini diberikan pada pemegang saham bukan dalam bentuk kas, melainkan saham. Jadi, pemegang saham akan memeroleh tambahan saham. Meski perusahaan miliki cukup laba, namun arus cash-nya tidak mencukupi untuk membayar tunai juga menjadi sebab perusahaan berikan stock devidend.

Skrip devidend

Keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham juga dapat berupa skrip devidend. Bisa dikatakan jika deviden jenis ini merupakan laba terutang yang dijanjikan oleh perusahaan setelah lebih dulu menerbitkan surat perjanjian. Dalam perjanjian yang disepakati bersama pemegang saham tersebut juga termaktub kapan harus dibayarkan. Mengingat skrip devidend mengenal sistem bunga, perusahaan pun juga harus membayar bunganya juga.

Liquidating devidend

Jenis yang terakhir adalah liquidating devidend. Seperti penyebutannya, deviden ini diberikan jika perusahaan mengalami likuidasi atau hendak dibubarkan. Sehingga bisa dikatakan jika pembagian ini adalah pengembalian modal pemegang saham dari kas perusahaan yang tersisa. Perlu dicatat, liquidating devidend yang dibagikan tidak berdasar pada besarnya laba usaha, namun berupa pengembalian modal investasi pemegang saham.

Demikianlah pemaparan mengenai pengertian dan jenis deviden. Mengenai mekanisme pembayaran, inverstor akan memperoleh pembagian devidend disertai dengan cum date, ex date, dan payment date. Di tanggal pembayaran yang telah disepakati dengan RUPS, perusahaan akan mentransfer laba tersebut ke rekening investor setelah dikenakan pajak penghasilan kecuali deviden tersebut diinvestasikan kembali ke dalam negeri

Pajak Deviden

Jenis pajak dan tarif PPh atas dividen yang berlaku saat ini adalah sebagai berikut:

  1. PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar 10% final, jika dividen diterima oleh orang pribadi dalam negeri;
  2. PPh Pasal 23 sebesar 15%, jika diterima oleh wajib pajak badan dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap (BUT);
  3. PPh Pasal 26 sebesar 20% atau sesuai kesepakatan dalam Persetujuan penghindaran Pajak berganda (P3B), jika diterima oleh wajib pajak luar negeri selain BUT.

Namun berdasarkan undang undang cipta karya dividen dikecualikan dari pajak penghasilan selama diinvestasikan di dalam negeri dalam jangka waktu tertentu.

Deviden dari luar negeri

Deviden dari BUT luar negeri dibebaskan sebagai pajak penghasilan jika diinvestasikan atau digunakan untuk mendukung kebutuhan bisnis lainnya dalam negeri selama jangka waktu tertentu dan memenuhi salah satu persyaratan. Yaitu

  • dividen dan penghasilan setelah pajak yang diinvestasikan paling sedikit 30% dari laba setelah pajak.
  • dividen berasal dari badan usaha di luar negeri yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek diinvestasikan di Indonesia sebelum dirjen pajak menerbitkan surat ketetapan pajak atas dividen tersebut.